Aku Sudah Hijrah! Iya Gitu?


Semakin hari ungkapan-ungkapan hijrah itu semakin menjamur saja ya di Indonesia. Sampai-sampai karena saking banyaknya orang yang sering mendengar kata hijrah, dia lekas menganggap dirinya sudah hijrah, sampai-sampai hijrah disini dilupakan maknanya. Dan itu yang mau saya bahas di tulisanku kali ini.

Saya juga nggak terlalu mengerti makna hijrah, sebenarnya. Dan sungguh tulisan ini saya buat bukan untuk menyinggung siapapun, saya hanya ingin menulis berdasarkan apa yang saya lihat, pun saya tak memiliki maksud untuk menggurui, jika terlihat begitu, tolong maafkan saya.

Kata hijrah itu mengalami generalisasi atau pelebaran makna pada beberapa waktu terakhir ini dan yang sama-sama kita tahu kata hijrah itu pasti selalu ada di pelajaran agama Islam bab Sejarah Islam dimana pada waktu 12 Robiul Awal tahun pertama hijriyyah. Rasulullah berhijrah ke Madinah dari kota sebelumnya, yakni Mekkah.

Sedangkan di masa ini hijrah diartikan sebagai taubatnya seseorang. Jika waktu itu disebut berpindahnya ummat Muslim dari Mekkah menuju Madinnah, maka di zaman ini disebut berpindahnya seseorang dari kehidupannya yang jauh dari Allah menjadi lebih dekat dengan Allah, pembuktiannya adalah dengan mena’ati perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Begitu kurang lebih.

Sayangnya ada juga yang tidak begitu, saya pun pernah mengalaminya. Begitu banyak orang yang memulai hijrahnya dengan mengubah penampilan terlebih dahulu atau mungkin lebih singkatnya, hijrah fisik. Untuk ikhwan mungkin tidak terlalu terlihat perubahan pada fisiknya tetapi untuk perempuan sangat terlihat sekali, yakni memakai hijab.

Saya senang pada akhirnya hijab tidak menjadi sesuatu yang asing lagi, tidak dimonsterisasi lagi, dan perempuan yang mengenakan hijab pun sedikit merasa lebih nyaman daripada sebelumnya.

Tetapi bukan artinya hanya setelah berganti pakaian lalu itu yang dinamakan hijrah. Kalau begitu artinya kata hijrah mengalami penyempitan kata lagi, dikatakan bahwa seseorang yang tadinya berpakaian ala Korea berubah fashion menjadi berpakaian ala Islam. Sedangkan pemikirannya masih sama saja. Padahal berhijrah tanpa diiringi dengan mengkaji Islam ya akan lemah.

Jadi sebenarnya jika kita bertanya lagi kepada diri sendiri mengenai pengakuan diri kita yang sudah berhijrah, memang benar begitu?

Justru perubahan pemikiranlah yang lebih penting, karena jika seseorang sudah paham akan sesuatu hal, itu akan menjadi alasan terkuatnya mengapa ia bertahan pada sebuah kondisi itu. Seseorang berpakaian syar’i dikarenakan paham akan ilmu agama yang sudah didapatnya, maka seberapa pun ujian menghampirinya, takkan mudah ia tergoda. Tetapi sebaliknya, jika berpakaian syar’i bukan karena pemahaman yang sudah didapat, maka kapanpun ia bisa saja menanggalkan hijabnya.

Mudah-mudahan kita sebagai perempuan yang katanya baru berhijrah, apapun niat hijrah kita pada awalnya, haruslah kepada niat yang benarlah kita kembali.

Kalau hijrah hanya sebatas pakaian, sungguh itu mudah sekali, bahkan mudah sekali juga goyahnya. Maka dari itu setelah hijrah, mulailah bisa memilih mana yang sekiranya dapat membangkitkan semangat hijrah kita dan mana yang tidak.

Luangkanlah waktu untuk bisa menghadiri kajian-kajian Islam di daerah masing-masing atau bahkan lebih bagus memiliki seorang guru ngaji untuk kajian intensifnya, minimal dua jam seminggu sebagai charger keimanan kita.

Dan jangan sampai lepas daripada jamaah, sungguh bersama orang-orang yang shalihlah kita akan kuat karena mereka selalu mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jadi hijrah yang begitu luar biasa maknanya itu jangan sampai kita ubah menjadi makna yang keliru. Tetap lanjutkan keputusan untuk berhijabnya, tidak apa kalau alasannya masih belum syar’i, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, hijab itu yang akan mengubah pemikiran kita.

Dan ternyata berdasarkan percakapan singkat yang saya lakukan bersama perempuan-perempuan di sekitar saya, masyaallah sebagian perempuan memang terpaut hatinya pada hijrah, keinginan untuk dimuliakan oleh Allah di dalam Islam. Maka ini menjadi cambuk untuk saya juga sih, mereka bukan tidak mau berubah, kitanya saja yang enggan mengajak mereka, dan jika sering ditemui ketidak-inginan mereka untuk berhijrah, sungguh bisa saja itu karena kita yang salah memberi bumbu pada dakwah kita.
Previous
Next Post »
0 Komentar