Terakhir kali saya mengirim tulisan disini ketika saya masih menjadi mahasiswa dan pekerja. Dan tulisan kali ini adalah tulisan pertama saya ketika sudah menjadi mahasiswa saja.
Pengakreditasian kampus membuat jam kuliah lebih panjang waktunya, menyebabkan saya harus lebih menekankan pilihan mana yang akan saya prioritaskan. Sejauh ini saya merasa sudah cukup menjadikan pekerjaan saya sebagai prioritas, terbukti dengan ketidak-penuhan absen saya dari tiap semester pun saya akan mengambil pulang lebih cepat di perkuliahan karena harus mengejar datang tepat waktu ke tempat kerja.
Yang saya jadikan sebagai alasan disini tentunya bukan untuk saya pribadi saja, melainkan kedua orangtua saya, sedikit-banyaknya mereka menaruh harapan kepada saya yang harus saya wujudkan pula harapan itu. Mereka mendukung penuh saya mengambil kerja sebagaimana mereka pun bahagia bisa mengkuliahkan saya. Namun ternyata tanpa mereka ketahui ada beberapa hal yang sebenarnya patut untuk mereka kecewakan jikalau mereka tahu.
Penurunan hasil nilai semester pada awalnya membuat saya biasa-biasa saja, namun akhir semester kemarin membuat saya menelan air liur juga. Beberapa teman ada yang mampu untuk bekerja dan mempertahankan nilai bagus mereka, ada juga yang mengambil sikap biasa saja. Dan kemarin-kemarin saya menjadi orang kedua, namun semester berikutnya saya merasa tidak mampu lagi. Ditambah mata kuliah di semester empat ternyata yang merujuk ke jurusan saya semua, saya tidak bisa lagi membuat kalimat, "nggak papa deh matkul ini nggak masuk, cuma pengantar ini, bukan matkul yang merujuk ke jurusan saya,"
Tambahan cerita, saya mempunyai mata kuliah yang selama tujuh pertemuan saya absen. Padahal di pertemuan sebelum Ujian Tengah Semester pun hanya menghadiri perkuliahan selama empat hari, dosen yang saya ingin meminta pemakluman kepada beliau sungguh saya lagi-lagi tak punya waktu untuk menemuinya di jam kuliah. Beruntungnya dosen ini pun mengajar saya di mata kuliah saya yang lain, mengadulah saya di jam mata kuliah itu.
Yang saya tahu dosen ini begitu baik namun kebaikannya tak melunturkan ketegasannya. Apa yang sudah saya lakukan tentunya akan menyisakan resiko yang harus saya ambil, tidak ada pengampunan ketika memang absen hanya berjumlah sekian, karena memang perjanjian dosen dengan kelas pagi-sore ketika tidak masuk di kelas pagi ya di kelas sore. Sedangkan dosen itu hanya mengajar satu kelas di kelas sore dan tidak ada jam beliau di kelas pagi, hal itu yang mempersulit saya, alasan saya kenapa tidak mengambil dua dosen bukan karena tak biasa hanya saja dosen yang satunya ini berbeda cara pengajarannya, tiap pertemuan pasti ada tugas yang harus dikumpulkan, pernah sekali saya masuk dan saya hanya bisa celingak-celinguk, salah saya juga sebenarnya tidak bertanya kepada teman-teman tugas apa yang harus dikumpulkan dan sebagainya. Namun hal itu membuat saya kerepotan jika harus masuk ke kelasnya.
Lagi-lagi alasan itu membuat saya mendapat jawaban yang sama, "itu resiko,". Semua yang saya khawatirkan sudah disampaikan semua, takut mengulang intinya, artinya kan harus ada biaya dan waktu lagi.
Dosen yang menerima aduan saya pun terlihat mencari cara sampai akhirnya beliau bertanya hasil UTS saya, saya bilang kalau saya belum dapat karena memang kan saya belum pernah masuk ke kelas dosen itu satu kali pun. Ketika melihat dokumen yang dibawanya ternyata benar, masih ada satu lembar kertas lagi dan itu hasil jawaban saya. Beliau melihat hasil kerja saya benar semua, beliau pun cukup menyayangkan akan ketidakhadiran saya di mata kuliahnya padahal nilai yang sudah didapat jika dilengkapi dengan absen yang penuh akan menghasilkan nilai yang bagus.
Dibuatlah kesepakatan oleh beliau dan itu pun hasil dari perhitungan beliau sepertinya, bahwa jika saya bisa mendapatkan hasil yang sama di ujian berikutnya maka saya bisa mendapatkan nilai yang cukup bagus meski nilai softskill tetap jelek setidaknya itu menutupi. Saya senang sekali mendapatkan jalan keluar itu.
Singkat cerita setelah saya mempelajari materi yang sudah saya dapatkan dari teman-teman, saya siap untuk ujian. Sayangnya materi yang diujikan itu agak berbeda dengan yang sudah dipelajari, teman-teman yang selalu hadir pun atau yang pernah hadir pun dibuat pusing oleh soal itu apalagi saya.
Saya sudah berusaha dan sudah saya pasrahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau memang mengulang adalah yang terbaik, juga cambuk untuk kelalaian saya, saya akan menerima itu. Tidak tenang rasanya sebelum hasil ujian itu keluar, belum lagi ketika saya akan melihat hasil nilai hampir semuanya berketerangan "bloked" saya baru ingat kalau saya mendapatkan masalah ketika mengisi edom untuk penilaian para dosen sedangkan saya waktu itu kehabisan kuota dan waktu yang ditentukan sudah lewat.
Lagi-lagi saya mendapatkan kesusahan harus bertemu dengan pihak kampus yang berwenang dalam urusan IT, keesokan harinya saya penasaran dan saya buka website kampus lagi, ternyata akses mahasiswa sudah dilancarkan semua, tidak ada hambatan bagi mahasiswa yang belum mengisi edom. Cukup degdegan juga hasilnya, tetapi ternyata nilai saya untuk mata kuliah yang dikhawatirkan untuk mengulang itu adalah B+.
Hidup itu sederhana jika kita mau berpasrah pada kehendak-Nya. Dan doa-doa jangan lupa untuk selalu dipanjatkan karena imbasnya bisa sampai sebesar yang saya rasakan ini. Saya tidak jadi mengulang. Dan pengalaman itu menjadi alasan untuk saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya.
Meski berat karena tanggungan yang biasanya saya yang tanggung setelah saya resign tidak mampu saya tanggung lagi. Kebanggaan bapak dan Mama mempunyai anak yang bisa kuliah sambil bekerja. Teman-teman seperjuangan yang amat saya sayangi. Semua itu tetap mengantarkan saya pada keputusan untuk berhenti bekerja. Meski nanti belum terbiasa tak mendapat uang dengan jumlah yang cukup besar ketika awal bulan, saya berkesimpulan lain bahwa mungkin ini adalah salah satu jalan untuk saya bisa memperhatikan hobbi saya kembali, cita-cita lebih tepatnya yakni mempunyai pekerjaan yang hanya harus menulis dan membaca setiap hari.
Dan kepikiran menghidupkan blog itu setelah resign kemarin itu, setelah lihat ada lowongan jadi penulis artikel di lingkarpenulis, dan pengejaran deadline lomba menulis novel bakbuk.id kemarin malam.
Dan menjadi lebih matang setelah beberapa malam yang lalu dihadapkan dengan ketidakmampuan menulis beberapa lembar lagi sebelum deadline, lalu Mama bilang kalau rezeki tidak akan kemana. Kepikiran saja untuk menulis lagi di blog.
Meski ternyata deadline tadi malam batal menjadi keesokan malamnya. Setelah ashar sebelum deadline, naskah sudah dikirimkan, saya kembali merapikan buku-buku yang sempat berserakan kemarin karena pengaruh deadline. Sedang kasur masih berantakan saja. Baru keluar rumah sedari kemarin. Mencari angin walau sekadar membonceng adik dengan sepeda barunya beberapa puluh meter.
Awal-awal ketika menulis jurnal kalau kehabisan kata ya kelebihan kata, mengingat instagram membatasi karakter pada kata. Dan saya rasa, saya butuh ruang yang lebih panjang lagi untuk mengembangkan ide-ide ini.
Sudah ada beberapa judul yang akan diangkat. Tetapi ya itu dia keberadaan dan ketiadaaan kuota sama-sama masalah untuk saya. Keberadaannya membuat saya susah beralih ketika mengecek satu per satu aplikasi yang ada di gawai namun ketiadaannya dibutuhkan sekali untuk sekadar searching ketika ada materi yang butuh diyakinkan untuk menulis.
Keduanya sedang dicoba untuk dimaksimalkan karena yang terpenting adalah tetap menulis dan memperbaiki kekurangan yang ada tiap kali menulis. Berkarya, berlatih, dan berpartisipasi, karena ternyata berharap kepada hadiah itu kalau saya, jadi tidak menulis dengan hati.
Dan strategi yang digunakan untuk mengefisienkan atau lebih tepatnya mengistiqamahkan pembuatan dan pengiriman tulisan di blog ini adalah perjalanan saya dari rumah ke kampus atau dari kampus ke rumah yang menghabiskan waktu cukup lama sehingga bisa saya pergunakan untuk menulis di memo gawai, memetik inspirasi dari tiap-tiap peristiwa yang saya lintasi dengan posisi di angkutan umum yang saya sukai, yakni di pinggir jendela.
Tulisan ini merupakan pengembangan dari jurnal hari ke-73 di instagram (@nuraenieaswari) diperkenankan untuk mampir kesana walau hanya sekadar membaca satu sampai dua cerita.
Salam.

0 Komentar