Meski Katanya Istiqamah itu Susah

Assalamualaykum semuaaa. Sore ini mau ngebicarain tentang Istiqamah. Ouhiya sebelumnya aku bikin akun baru di instagram, sebenarnya bukan akun baru sih, tapi akun ke dua. Akun @hayuhijrahid namanya, followersnya baru sedikit tapi berharap tak pernah berhenti dan sedikit mudah-mudahan akun ini menjadi salah satu akun rujukkan seperti akun-akun dakwah yang lainnya.

Nah kembali lagi ke pembahasan, beberapa penjelasan yang membuktikan bahwa istiqamah itu susah ada di quotes-quotes yang cukup populer juga sekarang-sekarang ini, begitu juga dengan akun @hayuhijrahid yang turut me-repost ulang quotes-quotes itu. Quote yang pertama itu “Hanya butuh satu langkah untuk hijrah, namun butuh ribuan langkah untuk istiqamah” perbandingan yang cukup jauh sekali, satu banding seribu, bisa terbayangkan bagaimana susahnya istiqamah?

Lalu quote yang kedua itu “Istiqamah memang susah, lah kalau mudah namanya bukan istiqamah tapi istirahat”. Hal itu menunjukkan kalau istiqamah dan istirahat itu adalah kata dan perbuatan yang berlawanan, kita tahu istirahat itu menyamankan, berarti istiqamah itu tidak senyaman istirahat, entahlah masih ada nyaman atau tidak disana.

Menjadi orang yang memutuskan untuk benar-benar taat kepada Allah itu adalah keputusan yang insha Allah menjadi salah satu keputusan yang mulia. Tetapi bagaimana supaya keputusan itu tidak goyah dan tetap terpatri di dalam diri, disinilah kita akan menemukan kesusahannya, hanya orang-orang yang kuat yang bisa mempertahankan keputusan ini, karena setelah kita memutuskan untuk taat, untuk cinta kepada Allah, Allah akan menguji kita, karena masuk Surga tanpa ujian itu nggak bisa, makanya Allah buatkan ujian untuk kita supaya kita bisa menjadi penghuni Surga-Nya, insha Allah.

Maka salah satu caranya supaya keputusan itu dapat dipertahankan, maka kita harus tetap stay di tempat dimana kita menemukan keyakinan untuk memutuskan hal ini, misalnya keputusan untuk taat itu kita dapatkan ketika kita sedang berkumpul bersama orang-orang yang shalih, orang-orang yang juga taat kepada Allah, di suatu perkumpulan yang tersuasanakan bahwa keputusan untuk taat ini selalu tegak. Tetapi yang kita sama-sama tahu, akankah kita hanya bertemu dengan orang-orang yang shalih? Orang-orang yang taat? Dan selalu berada dalam kondisi yang tersuasanakan untuk taat?

Pada kenyataannya tidak, aku sendiri pun begitu. Merasa benci ketika diri ini memiliki keimanan yang naik hanya ketika berkumpul di pengajian, dan menjadi lemah keimanannya ketika berada di luar itu. Itu artinya masih ada yang kurang, kekurangan untuk melengkapi keputusan itu. Karena hidup kita itu bertemu dengan banyak orang, kita pasti akan berinteraksi dengan orang-orang, yang baru kita temui ataupun yang sudah lama kita temui. Dan kita nggak akan bisa menjadi pemilih yang tangguh, kita mau hanya berinteraksi dengan si ini dan si ini, sedangkan nggak mau berinteraksi  dengan si itu dan si itu. Kita memang harus jadi pemilih, bahkan saya sendiri orangnya sangat pemilih, tetapi menjadi pemilih disini sampai dimana kita harus menjadi pemilih? Haruskah kita menjauhi orang-orang yang belum paham akan agamanya padahal di dalam mereka ada keinginan untuk mendapatkan penjelasan dari kita? Tidak mungkin, kan kita harus memasukan orang ini ke kategori si itu?

Kemarin-kemarin aku dipertemukan dengan kalimat ini “Jika kita merasa bahwa semua orang di sekitar kita rusak akhlaknya, tidakkah kita curiga bahwa kita lah teladan yang dikirim Allah untuk mereka? Jika kita merasa bahwa semua orang di sekitar kita tenggelam dalam kemaksiatan, tidakkah kita curiga bahwa kitalah da’i yang dikirim Allah untuk mereka?”

Tetapi sayangnya niat kita untuk mewarnai mereka itu malah membuat kita terwarnai oleh mereka. Karena pertemuan kita di hari-hari kita yang lebih banyak bertemu dengan orang-orang yang belum paham ini. Tapi disini kita nggak cukup sampai di ohiya yaudahlah shalihnya pas di pengajian aja, pas di kuliah/tempat kerja/rumah mah biasa aja shalihnya, kita nggak bisa membuang begitu saja, melemahkan begitu saja keputusan itu, karena Allah tidak menghargai dunia ini, dunia ini tidak ada harganya bagi Allah, makanya Allah berikan dunia ini juga kepada orang-orang yang tak beriman pun. Sedangkan Surga, Allah simpan, spesial hanya untuk orang-orang yang shalih, orang-orang yang beriman kepada-Nya. Maka dari itu jangan sampai kita menyerah, jangan hanya sampai tahu kalau istiqamah itu susah, kita harus buat strategi, bagaimana caranya dalam susah itu kita masih bisa merasa nyaman seperti istirahat. Insha Allah semua itu akan menjadi indah ketika kita sudah berhasil meraih Surga-Nya.

Tulisanku sore ini cukup sampai disini ya, mudah-mudahan bukan hanya hijrah yang bisa diistiqamahkan, tetapi juga dalam menulis blog ini. Baru kemarin balik ke twitter, lihat tweet-tweet lama terus ada kata seperti ini “Berbagi itu lebih menyenangkan daripada mendapatkan bagian”, begitu pun dengan aku sekarang merasa menyenangkan bisa berbagi meski tak tahu apakah ada yang menengok blog ini atau tidak, insha Allah jika ini baik dan bermanfaat Allah akan tunjukkan kepada orang-orang yang harus membacanya.
Previous
Next Post »
0 Komentar