Pandangan



Berbicara tentang pandangan, sebenarnya kali ini aku mau ngebicarain tentang pandangan orang lain terhadap kita. Dan memang ya, pandangan orang lain itu terkadang jangan terlalu diresapi namun juga kita butuh untuk perbaikkan, karena sejatinya yang memberi kita nilai baik atau tidak baik itu sumbernya ya dari pandangan orang lain tersebut.

Banyak orang memandang takjub, bangga, menganggap aku beruntung bisa mencicipi bangku perkuliahan dan menjadi seorang pekerja di waktu yang sama, sekaligus.
Itu salah satu misalnya, misal yang lain, banyak orang yang memandang aku itu adalah orang yang produktif, ada juga yang memandang aku itu hijrahnya konsisten, banyak juga yang menganggap mataku setiap pagi terlihat habis menangis padahal tidak, tetapi ada juga yang menganggap kalau mataku selalu sayu sepanjang hari terlihat kelelahan dan butuh tidur padahal memang benar.

Dari semua misal yang disebutkan di atas, 99% tidak sama seperti yang aku rasakan, aku nikmati, aku hadapi, aku lakoni, aku beruntungi dan aku-aku yang lain tetapi walaupun begitu, aku tetap berusaha untuk selalu mensyukuri itu semua.

Seperti misalnya pencapaian bisa kuliah dan bekerja di saat yang sama, aku mensyukuri itu. Sayangnya orang-orang hanya sekadar melihat itu, tanpa meresapi karena sebetulnya mereka pun melihat, aku jarang sekali ada di rumah, pergi dari tempat satu ke tempat dua ke tempat tiga dan berikutnya tanpa ada kendaraan pribadi, jadi memang selalu membutuhkan kaki yang kuat untuk berjalan juga ongkos yang kalau orang-orang disekitarku bilang "mending beli motor, punya kendaraan sendiri, bisa awet ongkos", bisa saja aku beli motor, bahkan mungkin di zaman sekarang terlalu mudah untuk mengambilnya secara kredit, sayangnya terlalu sempit kalau hidup hanya mengandalkan kebahagiaan dan kemudahan sedang dosa dan api neraka mengikuti dan menunggu kita untuk dilalap.

Beli secara kontan? Bisa saja, hanya saja aku ingin membelinya sendiri, tanpa harus merepotkan kedua orangtua (lagi), kedua orangtua berkali-kali menawari hanya saja terlalu jahat kalau ikut menuruti, biaya semester perkuliahan yang mereka tanggung pun sudah bingung bagaimana aku berterimakasih dan bagaimana memberikan ganti, walaupun pada dasarnya kita sebagai anak mempunyai hak untuk meminta, sayangnya menurutku sudah berapa belas tahun hak kita selalu dipenuhi? Kapan kita mengenyampingkan hak kita dulu lalu mendahulukan kewajiban kita sebagai anak.

Dan biasanya motivasiku ketika lelah berjalan ada salah satu hadits yang menyatakan bahwa berjalan pun mendapatkan pahala loh. Dan ketika tangan ini berat untuk mengeluarkan uang walau hanya setara satu kali naik angkot, aku ingat guruku pernah bilang mungkin kita masih diberi waktu lebih panjang lagi untuk membantu pak supir angkutan umum.

Okey kembali ke topik, belum lagi kalau misalnya kerja shift pagi, atau kuliah yang shift pagi, sisanya harus aku pakai untuk ke kuliah atau ke tempat kerja, akhir bulan biasanya aku sudah menamprak kepada mama, tidak perlu jajan buatku, bisa membayar bapak sopir angkutan umum pun sudah alhamdulillah, jadi memang ketika sudah menghadapi peristiwa semacam itu di akhir bulan, sebelum berangkat mama menyuruhku untuk makan lebih banyak, dikhawatirkan nanti lapar dan tak ada uang untuk jajan, walaupun doa mama sering kali cepat dikabulkan oleh Allah sehingga aku mendapatkan makanan dari yang tak disangka-sangka, ditraktir atau ya diminta untuk mencicipi.

Jadi sebenarnya kalau memandang dari sisi pendek, ya mereka merasa salut, namun di sisi panjangnya mereka akan menemui sulit. Tetapi aku senang mereka memandang begitu, itu artinya aku tak terlihat mengeluh sedikit pun di pandangan mereka.

Lalu tentang keproduktifanku, entah dari sisi mana mereka memandangnya, mungkin karena waktuku yang jarang dipakai untuk duduk manis. Kalimat ini pun sempat diucapkan dua hari lalu oleh teman kuliahku, padahal jadwal menulisku berantakan meski sudah kususun, jadi deadline yang sudah kubuat, aku langgar sendiri, intinya aku bukan penulis yang produktif. Lalu mereka juga bilang dengan waktu yang disita untuk sekadar bekerja dan belajar di kampus, masih bisa untuk mengerjakan tugas, padahal kalian pernah dengar the power of kepeped? Itulah kekuatanku, orang-orang pasti bisa bukan hanya karena terbiasa tetapi juga karena kepeped, hehehhe.

Pandangan berikutnya yakni tentang kekonsistenanku akan berhijrah. Kalau saja Mamaku tipe orang yang suka menyebarkan aib anaknya, mungkin ketika banyak orang yang menganggapku baik, mama akan bilang pret karena sungguh semuanya Mama tahu, aku siapa dan bagaimana. Bisa saja aku lebih banyak futurnya, hanya saja mungkin tidak terlihat atau memilih untuk menyelesaikannya sendiri, tak dibuat berlarut-larut dan tak diposting di media sosial. Itu sih sebenarnya yang menjadi kemungkinan tidak diketahuinya, tidak diumbar.

Tetapi memang yak manusia itu saling berperasangka. Memandang kebahagiaan ke atas sedangkan memandang motivasi ke bawah. Aku juga pernah begitu kepada kakakku, dia membiayai kuliahnya sendiri tetapi setiap aku meminjam uang akhir bulan, masih sempat memberi pinjam uang seratus ribu, ternyata aku baru mengetahuinya, aku merasa kalau aku adalah orang yang cukup gemar memberitahukan kepada Mama kalau rezeki itu ya Allah yang kasih, kita nggak usah khawatir. Tetapi terkadang aku sendiri yang khawatir, dan Kakakku yang benar-benar meyakini itu, beliau juga sama-sama kehabisan uang ketika akhir bulan tetapi buah dari keyakinannya, Allah selalu memberikan rezeki yang tak disangka-sangka, bahkan beliau itu sudah bisa menebaknya sendiri, ketika itu beliau mendapatkan uang tambahan dari orang yang dibantunya, dalam hati sudah menebak pasti ada sesuatu yang memang saya membutuhkan uang ini katanya, ternyata benar saja ketika itu aku pinjam uangnya.

Allah memang sesuai perasangka hamba-Nya, maka dari itu selalulah berperasangka baik pada-Nya. Bagaimana dan apapun pandangan orang lain terhadap kita, adalah buruk misalnya. Insha Allah, Allah akan membalikkan pandangan itu di kemudian hari. Tulisanku kali ini sampai disini dulu, insha Allah kita bertemu di tulisan selanjutnya.
Previous
Next Post »
0 Komentar